Zidane Puas Meski Imbang

Manchester City vs Real MadridReal Madrid tak berhasil dapatkan kemenangan dari kandang Manchester City. Meski begitu, Zinedine Zidane mangungkapkan rasa puasnya atas hasil yang diraih timnya.

Bertandang ke Stadion Etihad, Rabu (27/4/2016) dini hari WIB, Madrid tampil seri 0-0 dengan si tuan rumah. Walau begitu, peluang kedua kesebelasan untuk masuk ke final masih setara. Penentuan akan dilakukan di Santiago Bernabeu pekan depan, Kamis (5/5) dini hari WIB.

Pada babak pertama, dari Madrid maupun City sama-sama kesusahan untuk membuat  peluang bersih. Malah sampai 20 menit laga berlangsung, kedua kesebelasan tak berhasil membuat satu percobaan untuk mencetak gol pun.

Laga berlangsung lebih hidup di babak kedua, meskipun kedua tim baru membuat 1 attempts on target dalam 60 menit pertama. Akan tetapi, beberapa kesempaatan bagus sukses dibuat.

Madrid memiliki dua peluang emas di babak kedua dimana satu dari Jese, satu lainnya dari Pepe. Jese memperoleh peluang untuk membuat gol lewar sundulan, yang lalu membentur mistar gawang. Sedangkan Pepe memdapatkan kans melalui tendangan jarak dekat, yang lalu di tahan oleh penjaga gawang City, Joe Hart.

Selama laga berlangsung, Madrid lebih banyak menciptakan attempts daripada City. Madrid membuat 13 attempts yang mana 3 on target, sedangkan City menciptakan 4 attempts dan hanya 1 yang on target.

“Saya merasa puas dengan laga ini, laga yang tidak mudah. Kami melakoni sebuah pertandingan berat, namun berhasil bertahan dengan baik selama laga berlangsung, namun khususnya di babak kedua,” ujar Zidane setelah laga selesai.

“Kami memiliki sejumlah kans untuk menciptakan gol. Dari sudut pandang jumlah kans yang kami buat pada babak kedua, mungkin kami agak kecewa.”

“Akan tetapi, kami telah berupaya keras, saya bahagia dengan hasilnya jika dilihat dari keseluruhan,” kata manajer kelahiran Prancis ini.

Allegri Tak Mau Nonton Roma Vs Napoli

Massimiliano AllegriJuventus dapat diyakini bakal menjadi juara kalau saja Napoli tunduk dari AS Roma. Apakah Massimiliano Allegri akan menyaksikan pertandingan itu?

Juventus sukses meraih kemenangan dengan skor 2-1 dari Fiorentina pada pertandingan yang dihelat di Stadion Artemio Franchi, Senin (25/4/2016) dini hari WIB. Dengan keberhasilan itu, mereka sekarang memimpin 12 angka di atas Napoli yang berada di urutan kedua.

Dengan masih tersisa tiga laga lagi, dan kalau saja Napoli tersingkir, jarak 12 angka itu telah tak mungkin dikejar lagi. Begitu pula bila Napoli seri, jarak 11 angka juga sudah tak dapat dikejar.

Sudah sewajarnya jika Allegri, sebagai pelatih berharap lawan terdekat terpeleset. Akan tetapi, daripada menyaksikan laga Roma lawan Napoli, dia justru memilih untuk memikirkan laga timnya sendiri.

Allegri mengatakan  bahwa pihaknya akan berlatih seperti biasanya dan melakukan persiapan untuk pertandingan berhadapan denga Carpi. Dia mengingatkan bahwa mereka masih akan menjalankan final Coppa Italia pada 21 Mei mendatang, dan mereka tak boleh melihat pertandingan bertemu dengan Milan dengan mentalitas yang salah.

“Kami menyaksikan laga tersebut atau tidak, tak akan memberikan perubahan pada keadaan,” kata Allegri.

Diakui Allegri bahwa dirinya puas dengan kemenangan atas Fiorentina, walaupun timnya sempat mengalami kesusahan. Ia juga memberi pujian terhadap La Viola, yang selama laga berlangsung secara terus-terusan memberi tekanan pada Juventus.

“Ini merupakan langkah penting menuju gelar juara. Saya harus berikan banyak pujian terhadap Fiorentina, mereka benar-benar berikan kami kesulitan. Para pemain saya juga patut diberikan pujian,” ucap Allegri.

Misi Atletico Madrid Singkirkan Bayern Di Semifinal

Atletico Madrid Atletico Madrid tidak membantah bahwa Bayern Munich merupakan rival berat di semifinal Liga Champions. Namun diyakini mereka bahwa final dan titel juara tetap dalam jangkauan.

Atletico dijadwalkan bertanding dengan Bayern di laga dua putaran pada babak semifinal Liga Champions musim ini. Di final, diantara keduanya yang menang akan melawan dengan salah satu dari Manchester City atau Real Madrid.

Usai lolos ke final di musim 2013/2014 dan tidak berhasil mendapatkan gelar, Atletico jelas berkeinginan dapat kembali ke partai puncak. Namun kali ini harapan mereka agar dapat membawa pulang trofi walaupun masih harus melalui tantangan berat Bayern lebih dulu.

“Kami merupakan sebuah tim yang memiliki ambisi besar dan selalu bertekad memenangkan setiap kompetisi yang dilakoni. Jika kami sukses memenangkan La Liga dan Liga Champions, hal ini artinya bahwa kami mendapatkan sebuah target,” kata Direktur Olahraga Atletico Jose Luis Caminer.

“Bila satu kali saja Anda berhasil masuk ke semifinal, semua klub memiliki pemain dan kualitas untuk sampai ke final dan memenanginya. Hal ini sudah pasti selalu ketergantungan terhadap keadaan dan keberuntungan juga memainkan peran.”

“Kami mengetahui bahwa Bayern menanti di semifinal dan mereka merupakan tim bagus. Namun kami akan berusaha untuk menyingkirkan mereka, sama seperti yang kerap kami lakukan,” tandasnya.

Seperti yang diketahui, selama dua musim terakhir Bayern juga kerap sukses hingga ke semifinal, namun juga kerap tersingkir di babak ini.

Enrique Yakin Barca Akan Jadi Juara

Luis EnriqueMelakoni empat laga tanpa meraih keberhasilan, Barcelona terancam kehilangan titel di minggu-minggu terakhir di Liga Spanyol. Luis Enrique harus bisa membalikkan keadaan.

Usai sempat melangkah dengan mantap, Barca sekarang sedang dalam masa sulit. Dalam empat laga terakhir Liga Spanyol, tidak sekalipun berhasil memetik kemenangan dengan satu hasil seri dan tiga kegagalan.

Perolehan-perolehan tersebut pada prosesnya mengakibatkan jarak aman yang dulunya mereka miliki di papan klasemen lenyap. Walaupun masih unggul, perolehan 76 angka Barca sekarang disamai oleh Atletico Madrid di urutan dua dengan cuma ada lima pekan tersisa.

Jika Barca masih unggul, itu disebabkan mereka unggul head to head dengan Atletico di liga. Sedangkan Real Madrid juga memangkas jarak menjadi cuma tertinggal satu angka di urutan ketiga.

“Saya percaya kami bisa memenangkan liga, jika tidak saya tidak akan berada di sini. Saya menyukai kesulitan, seperti itulah karakter saya,” kata Enrique mengenai situasi timnya.

Ditambahkannya bahwa dirinya mau membalikkan keadaan sekarang, memenangkan laga besok dan memperlihatkan sebuah pertunjukan. Dirinya mau menyenangkan para fans yang memberikan mereka dukungan dan dia mengatakan bahwa dia tidak bisa menjelaskan situasi ini.

Barca akan berkunjung ke Deportivo La Coruna, Kamis (21/4/2016) dinihari WIB dalam misinya melakukan kebangkitan. Ditegaskan Enrique bahwa keyakinannya pada kekuatan mental para pemainnya, yang dikatakan sudah amat teruji.

“Kami memang tengah berada dalam situasi buruk, namun ini tidak usah terlalu dibesar-besarkan. Bila ini disebabkan oleh sisi psikologis, maka kami memiliki ahli psikologi terbaik di klub,” katanya.

“Kami yakin terhadap para pemain kami dan sikap mereka serta cara mereka berduel. Kami pernah memiliki saat-saat seperti ini sebelumnya, kami mengtahui caranya menghadapi tekanan. Namun kami tampil menghadapi tim-tim yang dapat menghukum kami dengan sedikit peluang.”

“Jika kami berhasil membalikkan situasi ini dan menjadi juara, saya tidak dapat membayangkan seberapa besarnya pesta yang akan kami helat. Namun pertama-tama kami mesti memenangkan pertandingan-pertandingan kami dulu,” demikian pelatih 45 tahun ini.

Atletico Semakin Menjadi Gila

Atletico MadridSementara waktu, Atletico Madrid kian mendekati Barcelona di puncak klasemen, usai menundukkan Granada tiga gol tanpa balas.

Dalam laga jornada 33 yang dilaksanakan di Vicente Calderon, Minggu (17/4/2016) malam WIB, Atletico bermain full team setelah mengalahkan Barca di perempatfinal Liga Champions tengah pekan kemarin.

Tercatat, penguasaan bola mereka mencapai 56 persen ball possesion dengan membuat delapan attempts dan tiga mengarah ke gawang rival. Ketiga shot on target itu membentuk gol kemenangan Atletico.

Cuma perlu 15 menit bagi Atletico berhasil memimpin melalui Koke. Memanfaatkan bola hasil tendangan Fernando Torres yang tidak sempurna, Koke dengan segera memjebloskan bola masuk ke gawang Granada.

Sedangkan Granada masih sanggup melepaskan banyak peluang akan tetapi tidak satupun yang mengancam gawang Jan Oblak. Hal ini bisa dilihat dari 11 attempts yang dibuat sepanjang pertandingan, tak satupun yang on target.

Sampai babak pertama berakhir, skor masih bertahan 1-0.

Memasuki babak kedua, Atletico masih memegang kendali permainan dan berhasil menggandakan keunggulan pada menit ke-59. Bola terobosan Koke berhasil diterima Torres yang dengan mudah melambungkan bola melewati hadangan penjaga gawang Granada Andres Fernandez.

Sebuah sumber mengatakan bahwa Torres untuk pertama kalinya sejak tahun 2010 (ketika masih membela Liverpool) berhasil menciptakan gol di empat laga secara berturut-turut.

Granada masih berusaha untuk terus mengancam gawang Atletico akan tetapi upaya David Barral lewat sebuah sundulan masih tidak menemui sasaran.

Atletico justru menambah gol lagi pada menit ke-83 melalui pemain pengganti Angel Correa yang memanfaatkan umpan Saul Niguez. Tendangan jarak dekatnya tidak dapat ditahan Fernandez.

Correa akhirnya menjadi pemain pengganti dengan jumlah gol paling banyak musim ini yaitu empat gol.

Pertandingan berakhir dengan skor 3-0 dan Atletico sekarang menyamai pendapatan angka Barca di puncak klasemen yaitu 76, akan tetapi kalah head-to-head. Barca sendiri baru akan menghadapi Valencia beberapa saat lagi.

Sedangkan Granada di urutan ke-17 dengan perolehan 30 angka.

Susunan Pemain

Atletico Madrid: Oblak; Juanfran, Savic, Godin, Hernandez; Saul, Gabi, Koke (Oliver Torres 75′), Carrasco (Fernandez 55′); Torres, Griezmann (Correa 63′).

Granada: A. Fernandez; Lopes (Foulquier 45′) (Rico 71′), Babin, Costa, Biraghi; Doucoure, Krhin (Barral 63′), Perez; Cuenca, Penaranda, Rochina.

Mancini Tegaskan Tak Ada Selisih Lagi Dengan Sarri

Roberto ManciniDikarenakan pertandingan penting yang semakin dekat yakni bertemu dengan Napoli, Sabtu (16/4/2016), manajer Inter Milan yaitu Roberto Mancini menegaskan bahwa tidak ada lagi permusuhan antara dirinya dengan Maurizio Sarri.

Pada malam ini waktu setempat, Inter akan mengundang Napoli di Giuseppe Meazza. Pertandingan itu juga merupakan ajang mempertemukan kembali Mancini dengan Sarri, yang pernah terlibat perselisihan sengit pada Januari silam.

Perselisihan antara kedua manajer terjadi dalam laga perempatfinal Coppa Italia yang mana Inter berhasil mengalahkan Napoli 2-0 di San Paolo. Dalam adu argumen tersebut, Mancini lalu menuduh bahwa koleganya itu ‘rasis dan homofobia’, yang disertai permintaan maaf Sarri.

“Saya akan bersalaman dengan Sarri. Kejadian itu merupakan masa lalu,” kata Mancini.

Sekarang ini, Inter berada di posisi keempat klasemen sementara dengan perolehan 58 angka, tertinggal enam angka dari AS Roma di urutan ketiga. Dengan enam laga tersisa, Nerazzurri harus berhasil memenangkan semua laga untuk terus membuka kesempatan masuk ke Liga Champions.

Meski begitu, Inter tengah bermain kurang meyakinkan. Usai menang tipis 2-1 dari Bologna, Mauro Icardi dkk tak berhasil memenangkan dua pertandingan selanjutnya yakni hasil imbang 1-1 dengan Roma, gagal 1-2 dari Torino dan kesulitan menundukkan tim gurem Frosinone setelah cuma menang tipis 1-0.

“Kini kami mesti fokus mengenai enam laga terakhir. Tim mulai terbentuk, ada fondasi untuk masa depan,” sambung Mancini. “Namun yang disayangkan, kami telah kehilangan sejumlah poin dan kini kami mengejar. Jadi kami butuh sedikit keberuntungan.”

“Karena masih terdapat enam laga yang sulit. Tim-tim yang akan menjadi lawan kami seluruhnya berat-berat dan beberapa di antaranya mungkin nothing to lose.”

Gabi Akui Melakukan Hand Ball

GabiBarcelona sebenarnya pantas memperoleh penalti dalam kekalahan 0-2 dari Atletico Madrid. Dengan disusulnya pengakuan dari kapten Atletico yakni Gabi yang melakukan hand ball.

Kemenangan itu membawa Atletico berhasil lolos ke semifinal dengan keunggulan aggregat 3-2 atas Barca. Ini adalah semifinal kedua bagi Los Rojiblancos sejak tiga musim terakhir usai mencapainya di 2013-14.

Dalam pertandingan perempatfinal putaran kedua di Vicente Calderon dinihari tadi, sejumlah keputusan wasit layak untuk dipertanyakan. Salah satunya ialah kejadian hand ball yang diperbuat Gabi ketika menghalau tembakan Andres Iniesta pada menit-menit akhir.

Kejadian ini akhirnya menjadi perdebatan. Akan tetapi, dalam penayangan ulang terlihat memang hal itu terjadi di dalam kotak penalti.

“Ya, itu handball. Aku berada pas di garis dan bola mengenai tanganku,” ungkap Gabi setelah laga berakhir. “Wasit memberi tembakan bebas di luar kotak, aku tak paham apakah tanganku di dalam atau di luar kotak.”

“Kadang kala keputusan-keputusan berpihak pada Anda dan kadang juga tidak. Jika memang di dalam, ya di dalam namun kami tak dapat bergantung pada satu momen. Kami layak menang.”

Di semifinal Atletico berkesempatan bertemu dengan lawan sekotanya yakni Real Madrid, Bayern Munich, ataupun Manchester City. Gabi belum ingin membahas mengenai gelar juara.

“Masih terlalu cepat untuk dibahas, kami masih di semifinal belum di final,” lanjut Gabi. “Kami harus terus bekerja dan menanti undiannya. Siapapun yang kami peroleh, seharusnya akan menjadi rival yang tricky.”

PSG Mengulang Kesalahan Yang Sama

Paris Saint-GermainParis Saint-Germain kembali lagi berhenti di babak perempatfinal Liga Champions. Les Parisiens mengulangi kesalahan yang sama yang pernah mereka perbuat pada tiga musim silam.

PSG harus tersingkir usai kalah agregat 2-3 dari Manchester City. Pada putaran kedua yang dilakukankan di Etihad Stadium, Rabu (13/4/2016) dinihari WIB, tim besutan Laurent Blanc itu kalah dengan skor 0-1 karena tidak berhasil membalas gol Kevin De Bruyne.

Tersingkir di perempatfinal mengakibatkan pencapaian PSG di kompetisi Eropa tidak ada perubahan selama empat musim terakhir. Mereka terus saja terhenti di babak delapan besar.

Selama empat musim terakhir, PSG kerap menjadi tuan rumah di putaran pertama perempatfinal dan tidak sekali pun menorehkan clean sheet. Musim ini, mereka ditahan seri City 2-2 di Parc des Princes.

“Ini merupakan kisah yang sama. Kami kehilangan angka di kandang dan itu membuat pertandingan tandang jadi lebih sulit. Ini selalu sama,” ujar kapten PSG, Thiago Silva.

“Kami telah membahas tentang itu sebelum laga, namun kami tidak melakukan apa yang kami katakan akan kami lakukan. Kini, bila saya berupaya memberi penjelasan apa yang terjadi, itu tak berarti apa-apa. Hal terbaik untuk dilakukan kini ialah melupakannya dan berpikir tentang musim depan,” kata Silva.

Walau tersingkir dari Liga Champions, PSG masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan treble domestik pada musim ini. Mereka telah memastikan gelar Liga Prancis dan masih bertahan di kompetisi Piala Prancis dan Piala Liga Prancis.

“Kami amat kecewa dengan perolehan ini. Namun, itulah sepakbola dan kami harus bisa menerimanya. Ini merupakan keempat kalinya kami sampai ke perempatfinal dan tersisihkan. Kini kami harus mundur selangkah dan menganalisis apa yang sudah terjadi,” ujar Presiden PSG, Nasser al-Khelaifi.

Liverpool Masih Gagal Atasi Bola Mati

LiverpoolKemenangan Liverpool di markas Borussia Dortmund digagalkan oleh gol Mats Hummels. Gol Hummels tersebut tak lepas dari gagalnya The Reds menangani hantu bola mati yang terus meneror mereka musim ini.

Berkunjung ke Signal-Iduna Park dalam pertandingan putaran pertama perempatfinal Liga Europa, Jumat (8/4/2016) dinihari WIB tadi, Liverpool yang bermain didominasi Dortmund sanggup memimpin duluan di babak pertama melalui gol Divock Origi.

Pada babak kedua Liverpool semestinya mengubah keadaan memberikan tekanan Dortmund dan mendapatkan sejumlah peluang. Kalau saja Roman Weidenfeller tidak bermain bagus, Liverpool ada kemungkinan telah berhasil menciptakan gol lebih banyak.

Akan tetapi, Liverpool masih belum berhasil meniadakan “penyakit” di lini belakang mereka yaitu mengenai bagaimana berhadapan dengan situasi bola mati. Gol penyama kedudukan yang diciptakan Hummels pun awalnya dari korner Henrikh Mkhitaryan.

Bola yang mengarah ke kotak penalti tidak berhasil ditahan Adam Lallana dan Hummels yang memenangkan duel udara berhasil menanduk bola, tanpa berhasil dihalau Simon Mignolet. Skor imbang 1-1 bertahan sampai pertandingan selesai.

Menurut catatan, dari secara keseluruhan 41 gol yang masuk di gawang Liverpool di liga musim ini, 40 persen lebih berasal dari set-pieces yang adalah jumlah paling banyak di liga.

“Di babak kedua, posisi bola mati, dan dalam dunia sepakbola itu semua merupakan kesalahan kami. Saya menetapkan untuk membiarkan Adam Lallana berada di posisi itu dibanding Divock Origi, saya minta maaf. Tentu saja kami harusnya dapat menangani umpan silang itu,” ujar Klopp di situs resmi klub.

“Kemudian Mats Hummels menciptakan gol namun kami masih memiliki peluang. Sedangkan dengan kesempatan bersih kami, Roman Weidenfeller bermain amat baik, performa sempurna. Pada akhirnya kesempatan kedua tim masih terbuka. Saya rasa kami layak mendapatkan hasil seri ini,” sambungnya.